RTLH di Lubuk Basung Dibedah dengan Wakaf Hamba Allah

Ditulis Oleh : Andri Padrianto | Pada : 14 Oct,2017 16:34:44

Editor : Sang Rajo

Dibaca : 13146 kali

Kondisi Rumah Zulinar

Rumah warga Jorong Sago, Nagari Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, dibedah. Ini merupakan sumbangan, berupa wakaf, salah seorang warga Lubuk Basung, yang tidak mau namanya diketahui publik.

Wakaf tersebut lebih kurang Rp100 juta, di mana pemanfaatannya untuk bedah rumah Tidak layak huni (RTLH), dan untuk mengelolanya dipercayakan kepada Kepala Dinas Kesehatan Agam, Dr. H. Indra, MPPM.

Saat dikonfirmasi via ponselnya, Sabtu (14/10), Indra membenarkan ada salah seorang warga Lubuk Basung yang berwakaf beberapa waktu lalu, sekaligus ia dipercayakan untuk mengelola, dan mencarikan RTLH untuk dibedah.

"Awalnya ia menemui saya, dan dikatakannya ingin berwakaf kepada masyarakat kurang mampu. Namun wakaf diserahkan pada masyarakat tidak berupa uang, melainkan dengan cara membedah rumah tiga atau empat unit," ujarnya.

Dengan hal demikian, Indra bersedia membantu karena ini amanah yang harus dijalani. Dengan mengingat Lubuk Basung wilayah terdekat, Indra mencoba konfirmasi pada camat, dan Puskesmas Manggopoh.

"Setelah itu, kita langsung turun ke lapangan, dan menemukan tiga rumah yang menjadi sasaran. Namun, dari tiga rumah itu, ada satu rumah yang sangat diutamakan, dengan melihat kondisi rumahnya," ujar Dinkes itu.

Dikatakannya, rumah yang dimiliki Zulinar (42) saat ini, hanya satu petak lebih kurang berukuran 3x4 meter, sudah termasuk kamar, ruang tamu, dan sedikit tempat memasak. Di sanalah 8 anggota berdiam, termasuk anaknya yang masih kecil-kecil.

20 tahun lalu, Zulinar telah mencoba membangun pondasi rumah berukuran 7 x 11 meter, namun pembangunan terhenti sampai pondasi karena terkendala dana, tambah lagi Zulinar mengalami kecelakaan, sehingga kondisinya saat ini sangat memprihatinkan. Dan bedah rumah dilakukan untuk melanjutkan bangunan yang terbengkalai tersebut, dan saat ini pengerjaannya sudah 45 persen, diperkirakan dua pekan kedepan bakal selesai.

"Jadi kita siapkan satu ini dulu, dan tahap selanjutnya dicari RTLH lainnya, yang dinilai layak untuk dibedah. Sedangkan pengontrolan dilapangan kita minta bantu pada pihak Puskesmas," ujarnya pula.

Ia mengungkapkan, dalam waktu dekat sudah ada data RTLH dua atau tiga unit lagi, supaya bisa cepat bedah rumah itu dilakukan. Ini bukan untuk Nagari Manggopoh saja, tapi juga untuk nagari dan kecamatan lainnya, jika masyarakat Agam menemukan RTLH, harap dikonfirmasikan pada Puskesmas terdekat.

"Beramal bukan hanya dengan harta semata, tapi juga bisa dengan pikiran dan tenaga yang kita miliki, dengan cara membantu masyarakat kurang mampu seperti, mencarikan solusi, dan masukan yang akan membuatnya sejahtera," kata Indra mengajak.

Zulinar

Ditempat terpisah, Zulinar mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah SWT yang telah memberikan rezki kepada keluarganya melalui salah seorang yang tidak mau disebutkan namanya. "Siapa pun dia, yang jelas kami sekeluarga sangat berterimakasih kepadanya, atas bedah rumah yang dilakukan ini," ujarnya.

Ia mengatakan, 20 tahun lalu ia memiliki sedikit uang untuk membangun pondasi rumah berukuran 7 x 11 meter, karena terkendala dana, maka pembangunan terhenti hingga tahun 2012. dan pada 2013, ia mendapat bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Agam sebesar Rp7,5 juta, dan dilanjutkan pembangunan rumah tersebut.

Namun, pembangunan hanya sampai tiga petak kamar, tapi bantuan tersebut sudah habis, sehingga pembangunan kembali terhenti. Setelah sekian lama, sedikit demi sedikit Zulinar menabung, namun malang tidak dapat ditolak bagi Zulinar yang mengalami kecelakaan tiga tahun lalu, dengan kondisi saat itu patah tulang punggung, kaki, dada, bahkan saat ini penglihatan tidak normal.

"Sehingga, uang yang ditabung tersebut terpakai untuk menambah biaya berobat di rumah sakit, di samping BPJS yang digunakannya," ujarnya.

Disamping itu, Kepala Puskesmas Manggopoh Ns. Lidia Ira Wati, S. Kep saat dilapangan mengaku prihatin melihat kondisi keluarga Zulinar. Pasalnya ia hanya seorang penjahit atap rumbia, itupun dibagi tiga dengan pemilik atap tersebut. Sedangkan suaminya Rajudin (46) hanya seorang panjat kelapa dengan monyet.

Menurutnya, jika dihitung-hitung setiap harinya penghasilan keluarga Zulinar tidak mencapai Rp100 ribu sehari, sedangkan kebutuhan setiap harinya terus berjalan. Sementara pekerjaan yang dilakukan tidak menetap, apalagi dengan kondisi Zulinar saat ini tidak bisa bekerja keras.

Untuk itu, keluarga Zulinar sangat membutuhkan uluran tangan dermawan untuk membantu keluarganya. Namun, Lidia juga menganjurkan Zulinar untuk mengajukan proposal ke Baznas Agam, agar bisa memperoleh zakat.

"Mudah-mudahan pihak Baznas Agam melakukan tinjauan ke lapangan, untuk melihat kondisi keluarga Zulinar saat ini, yang sangat membutuhkan bantuan untuk penunjang perekonomiannya," ujar Lidia Ira Wati berharap. (Tam/AMC)
 

Komentar