Ini Kata Indra Catri tentang Marwah Guru

Ditulis Oleh : Andri Padrianto | Pada : 07 Dec,2017 14:15:50

Editor : Sang Rajo

Dibaca : 2839 kali

Di samping kekurangan guru, yang menjadi isu strategis di dunia pendidikan, antara lain  profesi guru masih cenderung dipandang sebelah mata. Hal itu menyebabkan guru kehilangan marwahnya, dan cenderung disepelekan, padahal guru merupakan profesi mulia, yang tidak tergantikan dengan cara apa pun.

"Mengabaikan marwah guru, berarti kita tidak serius mengharapkan pendidikan yang berkualitas, guru yang berwibawa, dan bermarwah, mutlak diperlakukan dalam proses belajar mengajar serta mendidik siswa, agar mereka menjadi pribadi yang berkarakter kuat, cerdas, dan berakhlak mulia," ujar Bupati Agam H Indra Catri, Dt. Makalo Nan Putiah dalam menjawab isu strategis pada ministrial forum, di Jakarta, Kamis (7/12).

Menurut bupati dua periode itu, hal yang membuat marwah guru menurun karena guru tidak memperoleh kedaulatan profesionalnya, dan dipandang sebelah mata hingga diskriminalisasi, serta belum semua guru PNS memperoleh TPG, bahkan persayaratannya rumit, dan berbelit-belit.

Dengan demikian, perlunya memberikan hak-hak profesional guru sebagaimana mestinya, membayarkan TPG tepat waktu dan tepat jumlah, serta menyederhanakan berbagai urusan administrasinya, agar guru lebih punya banyak waktu untuk mendidik. Selain itu, memberikan pelatihan, agar guru dapat mensinergikan nilai-nilai karakter ke dalam materi pelajaran, sehingga semua guru ikut berperan dalam pendidikan karakter.

Di samping itu, seiring dengan tantangan perubahan sosial, baik tingkat nasional, regional, maupun global, dunia pendidikan dituntut untuk dapat melahirkan output peserta didik, yang di satu pihak berkarakter, dan berakhlak mulia.

Namun, di sisi lain juga mesti memiliki kecerdasan dalam menguasai ilmu pengetahuan, di mana dalam hal ini kompetensi guru senantiasa dipertaruhkan.  Guru sudah selayaknya mampu mengikuti irama zaman melalui pengapretan kompetensinya.

Berdasarkan hasil UKG tahun 2015, rerata nasional adalah 55,6, dan ini menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu ditingkatkan, agar bisa mencapai target yang sudah ditetapkan, yaitu 2015 minimal 60, 2016 minimal 65, 2017 minimal 70, 2018 minimal 75, dan tahun 2019 minimal 80.

"Yang menjadi masalah di kompetensi guru, adalah guru masih sulit memperoleh pelatihan peningkatan kompetensi, persyaratan untuk melanjutkan pendidikan atas inisiatif sendiri, tanpa mengurangi hak sebagai pegawai terlalu ribet, serta aturan birokrasi rumit dan berbelit-belit, dan masih kecilnya dana pemerintah untuk peningkatan mutu kompetensi guru," ujarnya menjelaskan.

Namun, kita juga perlu memberikan akses luas kepada guru terhadap layanan pelatihan, demi peningkatan kemampuan kompetensi profesional tersebut, dan mendorong Mendikbud, gubernur dan bupati, untuk mengembangkan kopetensi guru secara terencana dan berkelanjutan, serta menyediakan media khusus guru dan isu-isu pendidikan.

Lebih lanjut bupati menyebutkan, saat ini kita berada pada pendidikan Abad ke 21, di mana ada tiga unsur utama dalam pendidikan, yaitu pendidikan karakter, akademis, dan keterampilan. Ketiga dimensi itu harus dikembangkan secara sinergi, dan stimulan, agar peserta didik siap dalam menghadapi kompetensi global yang sangat ketat.

Pendidikan abad 21 menjadi kunci utama dalam dunia pendidikan saat ini, agar dapat bersaing secara global. Ada empat pendidikan yang dianggap sangat penting saat ini, yaitu creative thinking, critical thinking, communicative dan collaborative, atau dikenal dengan 4Cs. Pengembangan 4Cs ini membutuhkan Inovasi dalam dunia pendidikan, termasuk melakukan relay out untuk tempat duduk siswa. (Tam/AMC)

Komentar