Berumur 107 Tahun, Ini Sejarah Singkat Kerajinan Amai Setia

12 Feb,2018 15:01:58

Editor : Sang Rajo

Dibaca : 636 kali

Kerajinan Amai Setia

Agam, AMC-Kerajinan Amai Setia di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, merupakan suatu organisasi wanita yang pertama di Minangkabau. Amai Setia didirikan atas kesadaran jiwa kaum wanitanya, untuk berjuang dalam mencapai kamjuan.

Di mana, Ketua Umum Yayasan Amai Setia Koto Gadang Rangkayo Zulfikar M. Syaiful Sulun, di Rumah Kerajinan Amai Setia menyebutkan, sebelumnya Kerajinan Amai Setia sebagai tradisi yang diwarisi dari zaman dahulu, yang mana kala itu kaum wanita di Koto Gadang belum boleh memasuki sekolah-sekolah.

Menurut sejarahnya, tanggal 11 Ferbruari 1911, lahirlah perkumpulan yang diberi nama Kerajinan Amai Setia, yang diprakarsai Rakena Puti, dan dipimpin seorang tokoh wanita, yaitu Rohana Kudus. Dengan berdirinya organisasi itu, maka tradisi lama tersebut secara berangsur-angsur dapat dihilangkan, dan mulailah kaum wanitanya menempuh pendidikan modern.

"Tujuan utamanya, yaitu meningkatkan derajat wanita khususnya di Koto Gadang, dan Minangkabau pada umumnya, dengan memberi pelajaran menulis, membaca, berhitung, urusan rumah tangga, etiket, kerajinan tangan, dan menjualkan hasil kerajinan tersebut," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, tahun 1915, Kerajinan Amai Setia mendapat pengakuan Rechtspersoon atau badan hukum, dengan surat putusan Nomor 31 tanggal 16 Januari 1915, pada waktu itu hampir seluruh penduduk wanita Koto Gadang menjadi anggotanya.

"Bahkan, pemerintah memberikan subsidi kepada organisasi itu, dan digunakan untuk memulai membangun sekolah, diatas sebidang tanah yang telah dibelinya tahun 1916, dan dapat diselesaikan dan dipergunakan tanggal 23 Februari 1919," jelas Rangkayo Zulfikar M. Syaiful Sulun.

Mulanya, pelajaran yang diberikan hanya berupa kursus seperti, menjahit mesin, bordiran mesin, menyulam, merenda bangku, bertenun, dan lainnya. Bahkan, tahun 1923 Kerajinan Amai Setia membuka Nijverheidsschool atau sekolah industri, yang dapat berjalan dengan lancar, dan terpaksa tutup ketika Jepang masuk tahun 1942.

"Namun, di zaman Hindia Belanda, tiap tahun di mana diadakan pasar keramaian, baik di Indonesia maupun luar negeri, dikirim hasil karya Kerajinan Amai Setia untuk dipamerkan, sehingga hasil karyanya sampai saat ini terkenal diseluruh tanah air", jelasnya lagi.

Dikatakan Rangkayo Zulfikar M. Syaiful Sulun, tahun 1929, Amai Setia mendapat kunjungan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda De Graaf, dalam rangka memberi penghargaan jasa dalam bentuk Bintang Jasa, kepada Ketua Hadisah atas jasanya dalam memajukan Kerajinan Amai Setia, yang telah dipimpinnya dari tahun 1916-1929.

Namun, akibat terjadinya perang  dunia ke II, hubungan Kerajinan Amai Setia dengan luar negeri terputus, tetapi untuk kebutuhan dalam negeri tetap dapat dilayani, meskipun dalam keadaan yang terbatas.

"Setelah mengalami beberapa perubahan zaman yang dilalui masyarakat koto Gadang, tahun 1960 Amai Setia mendapat kunjungan dari Menteri Perindustrian dan Kerajinan Rakyat Dr. Azis Saleh, dalam usaha menggalakkan seni kerajinan tangan rakyat, bahkan telah mendrop sokongan untuk membantu memulai pemugaran gedung Kerajinan Amai Setia", pungkasnya.

Bahkan, tahun 1980, Amai Setia mendapat pinjaman bahan baku perak sebanyak 1 kilogram, dari Kanwil Perindustrian Sumatera Barat, yang sampai saat ini masih berlanjut. Sebagaimana diketahui, Koto Gadang terkenal memiliki seni kerajinan perak, tidak hanya membuat perhiasan tradisional saja, tetapi juga menciptakan disain-disain baru, seperti semat hias, kalung, gelang, rumah adat, dan lainnya.

Meskipun kelihatannya seni kerajinan tradisional Koto Gadang seolah-olah sedang menghilang, tetapi angkatan muda dari Koto Gadang, sebagai ahli waris nenek moyangnya yang berbakat tinggi masih memiliki bakat seni, dan masih mengembangkan, serta masih berusaha mencapai apa yang dikatakan " Cap Koto Gadang", yang bercirikan pemeliharaan kualitas, kejujuran, kesederhanaan, dan kewajaran. Karena, mereka tidak mengenal teknik menipulasi, hasil kerajinan tangannya tetap dapat dihargai sebagai hasil yang berarti.

"Dalam usaha meningkatkan produksi untuk mensukseskan Pelita III, Kerajinan Amai Setia telah memperkuat kedudukan hukumnya dengan membentuk Yayasan, dalam pengertian Kerajinan Amai Setia milik masyarakat wanita Koto Gadang, dengan tujuan mendapatkan bantuan kredit dari Pemerintah Pusat atau Bank", ujarnya pula.

Tetapi, usaha itu tidak berhasil, karena pemerintah hanya memberikan kredit kepada koperasi, sehingga sampai saat ini Amai Setia belum pernah mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah, kecuali 1 kilogram perak.

Namun, Kerajinan Amai Setia tetap mendapatkan perhatian dari pemerintah, dengan selalu mengikutsertakan dalam setiap kegiatan pemerintah untuk mebantu perusahaan ekonomi lemah, seperti penataran manajemen, latihan peningkatan disain produk perak, pameran tetap perdagangan, dan pameran yang sewaktu-waktu diselenggarakan Departemen Perindustrian, dan Departemen Perdagangan.

Yayasan yang diresmikan tahun 1979 itu, dengan tujuan utamanya meningkatkan derajat wanita yang mempunyai susunan pengurus harian. Bahkan, skop gerak Kerajinan Amai Setia bertambah luas, di mana tahun 1980 telah dibentuk cabang di Jakarta yang diketuai N. Alwin Nurdin. Bahkan, sampai saat ini Kerajinan Amai Setia sudah ke-107 tahun, tepatnya tanggal 11 Februari 2018. (Tam/AMC)

Komentar